JABARKINI.ID – Ada yang patut dipertanyakan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Arjasari 2, Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Di tengah program pemenuhan gizi bagi masyarakat, Kepala Desa Arjasari Rosiman bersama Babinsa justru menemukan sejumlah persoalan saat melakukan inspeksi mendadak, Kamis (3/9/2026).
Sidak dilakukan setelah muncul keluhan dari warga penerima manfaat mengenai rasa, porsi, dan kualitas makanan yang disajikan.
Bukan sekadar mencicipi atau melihat menu, pihak desa datang untuk mencocokkan sajian yang diterima masyarakat dengan standar paket yang disebut bernilai Rp10 ribu dan Rp8 ribu.
Kepala SPPG Arjasari 2, Ahmad Fauzi, menyatakan seluruh menu telah disusun berdasarkan rekomendasi ahli gizi. Ia juga mengaku telah membuat invoice sesuai menu dan menjalankan penyajian berdasarkan SOP harian.
Namun, ketika kualitas makanan dipertanyakan, muncul keterangan yang membuat persoalan menjadi semakin menarik untuk ditelusuri.
"Kalau menurut menu itu sudah kami kerjakan sesuai SOP, per hari. Kenapa banyak menu yang tidak dimakan," ujar Fauzi.
Pertanyaan publik pun sederhana: jika menu dan SOP sudah sesuai, lalu mengapa keluhan mengenai rasa dan porsi bermunculan?
Dalam sidak tersebut, muncul dugaan adanya pengurangan kualitas menu sekitar 20 persen.