JABARKINI.ID – Sepekan pascamusyawarah yang digelar di ruang Camat Pacet, Kabupaten Bandung, persoalan sosialisasi proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) justru dinilai belum menemukan titik terang.

Alih-alih menghasilkan solusi, pertemuan tersebut disebut warga malah menyisakan pertanyaan baru terkait kepentingan dalam pelaksanaan proyek yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Salah seorang warga Pacet, D Sungkawa, mengaku kecewa dengan hasil pertemuan tersebut. Menurutnya, masyarakat datang dengan harapan dapat menyampaikan aspirasi secara terbuka, bukan sekadar menjadi penonton dalam forum yang dinilai belum menyentuh persoalan utama.

“Kami selaku masyarakat Pacet kecewa dengan rapat ini. Bukan solusi yang muncul, malah konflik kepentingan yang tumbuh. Kami berharap ada ruang diskusi untuk menyampaikan aspirasi masyarakat,” kata D Sungkawa kepada JABARKINI.ID melalui sambungan telepon, Kamis (3/9/2026).

Ia menilai, sosialisasi seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam proyek SPAM, termasuk pelaku usaha atau kontraktor pelaksana.

Namun, menurut dia, aspirasi warga justru tersendat dalam forum yang seharusnya menjadi pintu masuk penyelesaian persoalan.

“Kami ingin diskusi. Hadirkan para pelaku usaha proyek, dengarkan aspirasi warga, lalu penuhi tuntutan yang memang masuk akal. Jangan masyarakat justru dibuat merasa takut,” ujarnya.

Sorotan warga juga muncul terhadap pengamanan kegiatan proyek. D Sungkawa mempertanyakan keterlibatan institusi negara dalam pengawalan pekerjaan proyek, terlebih ketika masyarakat sedang berupaya menyampaikan keberatan dan aspirasi.

Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan ketentuan mengenai tugas dan fungsi TNI serta aturan internal kepolisian yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam setiap pelaksanaan pengamanan kegiatan di tengah masyarakat.