JABARKINI.ID – Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di wilayah Desa Cikitu, Kabupaten Bandung, menuai pertanyaan dari masyarakat. Warga mempertanyakan minimnya sosialisasi terkait proyek yang berada di sekitar permukiman tersebut.

Masyarakat meminta pemerintah daerah maupun pihak pelaksana memberikan penjelasan secara terbuka mengenai tujuan pembangunan, dasar pelaksanaan, tahapan pekerjaan, lokasi proyek, dampak terhadap lingkungan dan permukiman, hingga manfaat yang akan diterima masyarakat.

Aktivis Abah Wira mengatakan, keberadaan proyek tersebut perlu mendapat perhatian karena lokasi pekerjaan disebut berdampingan dengan permukiman warga. Menurutnya, hingga saat ini dirinya belum pernah memberikan persetujuan terkait pembangunan yang disebut berkaitan dengan SPAM atau jaringan PDAM tersebut.

“Saya belum pernah memberikan izin. Lokasinya berdampingan dengan permukiman warga. Getaran dari alat berat juga sangat terasa,” ujar Abah Wira kepada JABARKINI.ID, Sabtu (15/8/2026).

Abah Wira menilai, komunikasi antara pihak pelaksana dengan masyarakat sekitar semestinya dilakukan sejak awal. Terlebih, aktivitas pembangunan secara langsung berada di lingkungan yang berdekatan dengan tempat tinggal warga.

“Kalau memang ini pembangunan untuk kepentingan masyarakat, seharusnya masyarakat yang berada di sekitar lokasi juga diberikan informasi yang jelas. Jangan sampai masyarakat justru mengetahui setelah pekerjaan berjalan,” katanya.

Selain persoalan sosialisasi dan aktivitas alat berat, Abah Wira juga mempertanyakan keterlibatan masyarakat sekitar dalam proses pengadaan material proyek.

“Kami juga mempertanyakan material yang digunakan. Informasi yang kami terima, pemasok material berasal dari PT Batu Alam dan material tersebut disebut berkaitan dengan aktivitas galian C. Ini perlu dijelaskan secara terbuka,” ungkapnya.

Menurut Abah Wira, persoalan tersebut penting untuk diklarifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.