JABARKINI.ID – Pagi yang seharusnya berjalan biasa di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, berubah menjadi kepanikan. Seekor macan tutul—satwa liar yang seharusnya hidup jauh di rimba—justru muncul di tengah permukiman warga, Kamis (5/2/2026). Tiga orang menjadi korban, terluka akibat gigitan hewan buas tersebut.
Kemunculan macan tutul di area padat penduduk bukan sekadar insiden satwa liar. Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa ruang hidup hutan di Bandung Selatan kian terdesak, memaksa predator puncak turun ke wilayah manusia.
Menurut Kepala Desa Maruyung, Apen Supendi, macan tutul terlihat berkeliaran sejak pagi hari, ketika warga mulai beraktivitas. Keberadaannya yang sangat dekat dengan rumah penduduk membuat situasi cepat berubah menjadi darurat.
“Macan tutul berada di sekitar jalan kampung dan rumah warga. Ini jelas sudah keluar dari habitatnya,” kata Apen kepada JABARKINI.ID.
Serangan pertama dialami Ujang Anis (42), warga yang hendak pergi ke warung. Tanpa sempat menghindar, korban diterkam dan mengalami luka gigitan serius di tangan kanan. Warga lain, Dede Juheri (44), yang mencoba menolong justru ikut menjadi korban serangan.
Sementara Imron Rosadi (38) mengalami luka gigitan lebih ringan saat berada di sekitar lokasi.
Ketiganya dilarikan ke Puskesmas Pacet dan menjalani perawatan medis. Meski kondisi para korban dinyatakan stabil, trauma dan ketakutan masih membayangi warga desa.
Pasca-kejadian, desa sempat berada dalam kondisi siaga. Aktivitas warga dibatasi, dan aparat keamanan bersama pemerintah desa bergerak cepat berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
Tim gabungan akhirnya berhasil mengamankan macan tutul tersebut dan membawanya ke lokasi penanganan khusus. Namun hingga kini, penyebab pasti kemunculan satwa dilindungi itu belum diungkap secara resmi.
