JABARKINI.ID - Sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia janji-janji orasi seorang calon wakil rakyat (baca : DPR) ketika saat mengkampanyekan visi misi untuk mendapatkan kursi di Senayan. Berbagai cara dilakukan, demi sebuah kursi jabatan yang akan didudukinya (setidaknya) 5 tahun kedepan. Suara menggelegar, mulut lantang berbusa melontarkan janji-janji untuk meyakinkan rakyat kalau "saya" adalah orang yang pantas dipilih. Tanah, rumah, empang dan harta benda yang ada pun dilelang habis-habisan untuk menyuntik biaya kampanye yang tidak sedikit.
Namun ironisnya, setelah terpilih, janji yang tadinya menggebu-gebu hanya tinggal bau busuk bekas liur yang berceceran, visi misi yang tadinya jelas dan terang benderang kini redup seperti bola lampu warung remang-remang. Tuan dan Nyonya anggota DPR yang tadinya lantang menyuarakan kesejahteraan rakyat, membakar semangat para pendukungnya, kini semua itu sirna seperti balon hijau yang meletus yang membuat hati kacau. Benih itu tumbuh, tak lain dan tak bukan karena ketamakan dan kerakusan yang dibalut ambisi. Melacurkan diri di Senayan agar terlihat high class. Ya betul, melacurkan diri, saya tidak salah, karena mendengar janji kampanye anggota dewan itu seperti mendengarkan seorang pelacur berkata kalau "dirinya masih perawan".
Sofa yang empuk, ruang ber AC, gaji dan tunjangan yang besar, fasilitas mewah, diperlakukan bak seorang raja serta hidup terjamin menjadikan mereka lupa akan janji manis yang pernah dilontarkannya dengan keyakinan. "Rakyat mah bodo amat, yang penting gue senang", begitulah kata yang seakan keluar dari dalam hati mereka hanya saya tidak terucap dimulut.
Runtuhnya Rasa Empati
Disaat rakyat sedang berjuang untuk hidup, mengais sisa-sisa rejeki yang mungkin masih bisa mereka peroleh, sebuah keputusan menyakitkan dikeluarkan oleh RI1, MENAIKAN GAJI ANGGOTA DPR..!!
Hal ini tentunya menyayat hati rakyat dimana rakyat menilai anggota dewan yang kerjaannya cuma makan, tidur, rapat diberkan gaji dan tunjangan (kurang lebih) 100 jt/bulannya, diluar tunjangan dan uang-uang lain. Nilai tersebut jika dibagi hari kerja sekitar 3jt rupiah lebih perharinya, fantastis. Tarian dan jogetan kebahagian pun spontanitas keluar dari tuan dan nyonya saat berita ini diumumkan, mereka berlenggak lenggok membayangkan kedepannya biaya kampanye yang terkuras bisa secepatnya tergantikan, rumah megah, mobil mewah, outfit braded menanti didepan mata, sungguh masa depan yang cerah.
Konyolnya, hal ini diklarifikasi oleh salah seorang petinggi Dewan tersebut, AK, ia dengan kebingungan mengatakan "Nilai itu sedikit, kos-kosan disini rata-rata 3jt perbulan kami ini bekerja 26 hari kerja, jika dikalikan 26 maka terhitung 78jt sementara kami menerima hanya 50jt/bulan untuk tunjangan rumah dan kos-kosan". Statement dungu ini sontak membuat publik bertanya-tanya, Yang Mulia Dewan ini lulus SD atau tidak? Bagaimana cara dia menghitung 3jt / bulan sedangkan yang diterimanya 50jt dan masih dibilang minus? Lalu dikalikan 3jt masih dikali 26 hari kerja, kan hitunganya sama-sama BULAN, TUAN. Anak SMP pun disuruh menghitung hal sederhana ini tidak akan sampai 2 menit.
Tunjangan beras 12 jt/bulan pun tak luput dari sanggahan, katanya, 12jt buat beras itu "kecil"??!! Pilu hati ini mendengarnya. hey Mr. Mikey Mouse, anda buka mata lebar-lebar, diluaran sana bahkan sisa-sisa beras pun dipunguti oleh rakya anda saking tidak mampunya membeli beras hanya untuk sekedar bertahan hidup..!!
Memang manusia pada dasarnya tidak memiliki rasa syukur, tidak tau berterima kasih dan tidak sadar diri. Dulu, kalian mengemis untuk meminta suara, sekarang, rakyat yang anda-anda suruh mengemis untuk mendapatkan sedikit perhatian dari anda wahai tuan nyonya yang tidak akan pernah saya hormati!
