JABARKINI.ID – Wayang golek bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan denyut nadi budaya Sunda yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dari Tatar Pasundan, sebuah padepokan bernama Giri Harja terus menjaga napas tradisi ini agar tetap lestari di tengah arus perubahan zaman.
Di bawah kendali tangan dalang, tokoh-tokoh kayu bergerak dan berbicara, menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang sarat makna. Giri Harja, yang dipimpin Dalang Dadan Sunarya Sunandar, menjadi salah satu sentra penting pelestarian wayang golek di Jawa Barat. Tradisi pedalangan di padepokan ini diwariskan secara turun-temurun hingga kepada generasi cucu yang kini dikenal sebagai dalang cilik.
Dalam dunia pedalangan, nama Giri Harja bukan sekadar padepokan seni. Ia telah menjelma menjadi simbol kesinambungan tradisi. Di balik keberlangsungan tersebut, terdapat satu keluarga yang konsisten menjaga api kebudayaan, yakni keluarga Dadan Sunarya.
Pesantren budaya Giri Harja tidak hanya menyuguhkan pertunjukan wayang golek, tetapi juga menjadi ruang pendidikan budaya. Dari tempat inilah lahir dalang-dalang muda yang kelak meneruskan estafet tradisi. Regenerasi dalang secara turun-temurun bukan tanpa alasan, sebab wayang golek bukan hanya keterampilan teknis, melainkan juga warisan nilai, filosofi, serta tanggung jawab budaya.
Dalam keluarga Dadan Sunarya, seni pedalangan dikenalkan sejak usia dini dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejak kecil, anggota keluarga telah akrab dengan suara gamelan, cerita pewayangan, hingga proses panjang di balik sebuah pertunjukan.
M. Ilham Rahmawan (25) mengatakan bahwa regenerasi tidak dimaknai sebagai bentuk kekakuan tradisi.
“Turun-temurun bukan berarti kaku. Kami ingin tradisi ini tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai dasarnya,” ujarnya, Rabu (17/12/2025).
Hal senada disampaikan Agus Sunarya (37) yang menilai wayang golek sebagai sebuah amanah budaya.
“Wayang golek di keluarga kami bukan sekadar profesi, tetapi amanah. Sejak kecil kami hidup bersama wayang—mendengar cerita, melihat latihan, hingga memahami makna setiap lakon. Itu yang membuat regenerasi berjalan alami,” katanya.
