Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan pentingnya penguatan ekosistem inovasi di daerah sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing nasional. Penegasan itu disampaikan dalam acara penganugerahan Innovative Government Award (IGA) 2025 di Kempinski Grand Ballroom Jakarta, Rabu (10/12/2025).

Wiyagus memaparkan bahwa posisi daya saing Indonesia menurun cukup signifikan berdasarkan laporan IMD World Competitiveness Center 2025, yaitu dari peringkat 27 pada tahun 2024 menjadi peringkat 40 dari 69 negara. Kondisi ini, kata dia, menjadi alarm bagi seluruh pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola dan memperkuat inovasi sektor publik.

“Pemerintah daerah perlu memperkuat kelembagaan, meningkatkan kolaborasi lintas sektor, serta mempercepat digitalisasi layanan publik,” ujar Wiyagus.

Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap inovator lokal dan UMKM berbasis teknologi harus terus ditingkatkan melalui pemberian insentif, inkubasi, hingga skema pembiayaan inovatif. Upaya tersebut dinilai mampu memperluas dampak inovasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Wiyagus juga menekankan pentingnya replikasi praktik baik antar-daerah agar inovasi tidak berjalan parsial, melainkan memberi dampak sistemik bagi tata kelola pemerintahan, ekonomi, dan layanan masyarakat.

Menurutnya, regulasi saat ini telah memberi keleluasaan bagi daerah untuk berkreasi sesuai dengan karakter dan kebutuhan lokal sebagaimana diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta PP Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah.

“Langkah tersebut dapat menjadi pengungkit peningkatan kualitas pelayanan, percepatan pembangunan, serta daya saing daerah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, inovasi yang inklusif diperlukan agar pemerataan akses dan kesempatan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah daerah juga diminta melakukan pemetaan potensi secara proaktif agar inovasi lebih tepat sasaran dan berkontribusi nyata pada pembangunan berkelanjutan.

Wiyagus mengungkapkan bahwa jumlah inovasi yang dilaporkan ke Kemendagri meningkat pada 2025. Namun, masih terdapat sejumlah catatan, antara lain dominasi laporan dari wilayah Indonesia barat, serta kesenjangan antar-urusan pemerintahan yang masih terpusat pada sektor kesehatan dan pendidikan. Ia juga menyebut 15 kabupaten di Papua belum melaporkan inovasinya.