JABARKINI.ID – Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kembali menjadi perhatian serius dalam upaya mitigasi banjir. Wilayah yang berada di cekungan dan dikelilingi sejumlah aliran sungai ini dinilai masih memiliki tingkat kerawanan tinggi, khususnya di Desa Citeureup.

Tim Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot—yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media—melakukan survei lapangan mendalam terkait rencana pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) serta pemasangan geobag di RW 14 dan RW 17 Desa Citeureup, Selasa (3/2/2026).

Survei ini dilakukan sebagai respons atas kondisi geografis Dayeuhkolot yang berada di antara aliran Sungai Cikapundung Kolot, Sungai Cigede, dan Sungai Citarum. 

Pada musim hujan, debit air sungai kerap meningkat drastis dan memicu banjir di kawasan permukiman.

Pada tahun sebelumnya, banjir besar sempat melanda Desa Citeureup akibat jebolnya tanggul Sungai Cigede di Kampung Lamajang Peuntas, yang menyebabkan ratusan rumah warga terendam. 

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, pemasangan geobag direncanakan sebagai solusi darurat guna menutup titik tanggul yang rawan jebol dan menekan risiko luapan air.

Selain faktor tanggul, tim juga menyoroti tingginya sedimentasi serta tumpukan sampah yang menghambat aliran air di sejumlah titik krusial, seperti jembatan dan saluran drainase. 

Kondisi tersebut dinilai memperparah potensi banjir jika tidak segera ditangani secara menyeluruh.

Dalam survei tersebut, Tim Pentahelix bersama pihak BBWS dan Dinas PUTR mengevaluasi rencana teknis pembangunan TPT di beberapa titik strategis. Salah satu fokus utama adalah TPT di RW 17 Desa Citerep yang direncanakan untuk ditinggikan guna memperlancar aliran air sungai dan memperkuat struktur penahan tanah.