JABARKINI.ID – Proyek pembangunan Jembatan Dayeuhkolot kembali menjadi sasaran kemarahan publik. Bertahun-tahun tak kunjung rampung, jembatan vital penghubung aktivitas ribuan warga itu kini “diadili” langsung oleh masyarakat lewat spanduk-spanduk bernada sindiran yang terpasang mencolok di sekitar lokasi proyek.
Spanduk tersebut bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan alarm keras atas akumulasi kekecewaan warga terhadap proyek infrastruktur yang dinilai mandek, tanpa kejelasan arah dan kepastian penyelesaian.
Tulisan-tulisan seperti “Bukan kurang anggaran, tapi kurang kepedulian” dan “Tahun Sili berganti, jembatan tetap mangkrak” menjadi simbol kritik terbuka terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dianggap gagal menunjukkan keseriusan dalam menyelesaikan proyek strategis tersebut.
Sorotan publik kian tajam setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa pembangunan Jembatan Dayeuhkolot merupakan kewenangan Pemprov Jabar dan telah masuk dalam anggaran tahun 2026.
Pernyataan itu disampaikan melalui akun media sosial resminya, @dedimulyadi71, Sabtu (7/2/2026).
Namun alih-alih meredam kritik, pernyataan tersebut justru memantik pertanyaan mendasar di tengah masyarakat: jika kewenangan jelas dan anggaran sudah tersedia, mengapa jembatan ini masih terbengkalai?
Dedi Mulyadi kemudian mengungkap adanya perubahan konsep pembangunan.
Awalnya, proyek jembatan dirancang dengan anggaran sekitar Rp60 miliar. Namun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) meminta jembatan ditinggikan demi kepentingan teknis pengendalian banjir, sehingga kebutuhan anggaran melonjak hingga sekitar Rp100 miliar.
Secara teknis, alasan tersebut dinilai rasional. Namun publik menilai persoalan ini seharusnya bisa diantisipasi sejak tahap perencanaan awal. Perubahan desain di tengah jalan justru memperlihatkan lemahnya perencanaan dan minimnya sinkronisasi antarinstansi pemerintah.
Akibat tarik-menarik kewenangan dan revisi konsep, masyarakat kembali menjadi pihak yang paling dirugikan—terjebak kemacetan, risiko keselamatan, serta terhambatnya aktivitas ekonomi dan sosial.
