Menyulam Cerita, Menembus Batas Waktu
Oleh : Devi Alex Pemimpin Redaksi Media JABARKINI.ID
JABARKINI.ID - Hujan turun pelan di atas genting rumah sederhana di sudut Majalaya. Aroma tanah basah menyusup lembut ke sela-sela udara. Di dalam ruang tamu yang hangat, duduklah seorang pria yang kini dikenal luas dalam lingkaran media lokal: Devi Alex Budiana. Sesekali ia menatap keluar jendela, seakan menengok masa lalu yang membawanya ke titik ini—sebuah perjalanan yang tidak pernah ia rencanakan, namun kini ia syukuri sepenuh hati.
“Saya tidak pernah menyangka akan menjadi wartawan,” katanya pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. “Tapi hidup kadang mengarahkan kita ke pintu yang bahkan tidak pernah kita lihat sebelumnya.”
Devi bukan nama baru di dunia pers Majalaya. Namun kisahnya, nyaris semua orang sepakat, bukan kisah yang biasa. Ia menempuh jalan berbeda dibanding para seniornya. Alih-alih menapaki dunia media sejak muda, Devi justru menghabiskan 13 tahun hidupnya di salah satu perusahaan industri di Majalaya—jauh dari hiruk pikuk ruang redaksi.
Namun panggilan itu akhirnya datang. Tahun 2020, di tengah ketidakpastian pandemi global, ia memulai perjalanan barunya sebagai jurnalis. Dan dalam lima tahun, namanya mulai menjadi rujukan—bukan karena lama bekerja, melainkan karena dedikasinya yang jarang pudar.
Dunia jurnalistik bukan tempat yang ramah untuk pendatang baru—itu yang selalu ia ingat. Tahun 2020, ia datang membawa semangat besar, tetapi pengetahuan yang nyaris nol. Tak jarang ia salah menulis struktur berita, salah memahami angle, bahkan salah membaca dinamika narasumber.
“Awal-awal itu… keras,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Saya bingung harus mulai dari mana. Tapi saya nekat saja.”
Ia belajar dari mana pun—artikel internet, liputan senior, diskusi panjang di warung kopi, bahkan kritik pedas dari editor yang pernah membuatnya terdiam semalaman. Namun dari satu kritik itulah ia mengubah caranya menulis.
