JABARKINI.ID – Ketika ruang publik Indonesia kian dipenuhi simbol, gaya hidup, dan cara berpikir impor, sebuah gerakan akar rumput memilih jalan berlawanan. Pejuang Peci Hitam secara terbuka meluncurkan Manifesto Nasional sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap apa yang mereka sebut sebagai krisis harga diri bangsa.

Gerakan ini menolak anggapan bahwa nasionalisme cukup dirayakan lewat seremoni dan slogan kosong. 

Dalam manifesto bertajuk “Menjunjung Langit Identitas, Membumikan Jiwa Kebangsaan”, peci hitam ditegaskan bukan sebagai aksesori keagamaan atau formalitas kenegaraan, melainkan mahkota rakyat—simbol perlawanan diam-diam terhadap mentalitas bangsa yang gemar mengekor.

“Peci hitam adalah garis demarkasi. Ia membedakan bangsa yang berdiri tegak dengan bangsa yang rela menjadi bayangan budaya lain,” tegas Ketua Umum Pejuang Peci Hitam, A. Tarmizi.

Menurut komunitas ini, peci hitam selama ini telah direduksi maknanya—dipakai saat upacara, difoto saat kampanye, lalu ditanggalkan ketika berhadapan dengan kepentingan global. 

Padahal, sejarah mencatat, pemikiran besar para pendiri republik lahir di bawah naungan peci hitam, bukan di bawah topi impor atau simbol kekuasaan kolonial.
Manifesto tersebut menempatkan peci hitam sebagai:

Simbol Persatuan Lintas Identitas, melampaui sekat agama, etnis, dan kelas sosial;

Benteng Kedaulatan Budaya, menghadapi hegemoni gaya hidup Barat yang mencabut akar lokal;

Identitas Intelektual Bangsa, pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari kesadaran, bukan imitasi.