JABARKINI.ID – Ketika membahas fakta bahwa 80 persen jurnalis pernah melakukan swasensor, banyak perhatian tertuju pada tekanan, rasa takut, hingga ancaman yang membayangi kerja jurnalistik.
Namun ada satu aspek lain yang sering luput dari sorotan: cara jurnalis memilih narasumber.
Seperti dikutip dari unggahan Instagram PPMN, kecenderungan memilih narasumber yang “aman” kerap menjadi pilihan praktis di tengah situasi yang sensitif.
Pakar yang sudah familiar, wajah yang sering muncul di televisi, atau sosok yang dianggap tidak kontroversial sering kali menjadi opsi utama.
Padahal, keputusan tersebut tidak selalu menghadirkan kedalaman informasi. Salah memilih narasumber bisa membuat berita kehilangan perspektif penting, bahkan menggerus kredibilitasnya.
Popularitas bukan jaminan kompetensi. Seorang pakar yang sering tampil di media belum tentu memiliki keahlian spesifik pada isu yang sedang dibahas.
Karena itu, jurnalis perlu melakukan verifikasi lebih jauh: menelusuri rekam jejak, memahami latar belakang akademik maupun profesional, serta mencermati posisi dan afiliasinya.
Konflik kepentingan juga menjadi faktor yang tak boleh diabaikan. Narasumber yang memiliki keterkaitan politik, bisnis, atau kepentingan tertentu berpotensi memengaruhi objektivitas pandangannya. Tanpa disadari, informasi yang disajikan bisa menjadi bias.
Selain itu, keberagaman perspektif harus menjadi perhatian. Dunia keilmuan dan kepakaran tidak hanya diisi oleh laki-laki atau kelompok tertentu saja.
