JABARKINI.ID – Terhentinya sementara operasional sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, mulai menimbulkan dampak serius. Tidak hanya mengganggu distribusi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah, keterlambatan pencairan anggaran juga membuat puluhan tenaga kerja terancam kehilangan penghasilan.
Salah satu dapur yang menghentikan operasionalnya adalah SPPG Biru 1 yang berlokasi di Pondok Pesantren Al-Muawanah, Desa Biru. Dapur tersebut sudah sekitar satu minggu tidak beroperasi akibat dana program yang belum juga cair.
Pengelola SPPG Pondok Pesantren Al-Muawanah, Ustadz Natshir, menyebut kondisi ini berdampak langsung pada dua kelompok rentan sekaligus, yakni anak-anak penerima manfaat dan para pekerja dapur MBG.
“Program ini menyasar pemenuhan gizi anak-anak. Ketika dapur berhenti, otomatis distribusi makanan ikut terhenti. Di sisi lain, ada 47 karyawan kami yang saat ini tidak bisa bekerja dan kehilangan penghasilan harian,” ujarnya, Kamis (25/12/2025).
Menurutnya, keterlambatan pencairan anggaran berpotensi mengganggu upaya peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak sekolah, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada program MBG sebagai sumber asupan harian.
Selain berdampak pada anak sekolah, terhentinya operasional dapur MBG juga memukul sektor ketenagakerjaan di tingkat lokal. Para pekerja dapur, yang sebagian besar menggantungkan penghasilan dari aktivitas harian, kini berada dalam kondisi tidak menentu.
“Kami berharap masalah administrasi ini segera diselesaikan. Jangan sampai program strategis nasional justru menimbulkan masalah sosial baru di daerah,” tambah Ustadz Natshir.
Sementara itu, Camat Majalaya H. Rofiran mengaku telah menerima laporan terkait terhentinya operasional sejumlah dapur SPPG di wilayahnya. Ia menyatakan akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
“Saya akan kroscek langsung ke lapangan,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.
