JABARKINI.ID – Aktivitas penjualan daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Sukabumi terganggu akibat aksi mogok untuk berjualan yang dilakukan para pedagang, pada rabu (07/01/2026). Aksi ini dipicu oleh kenaikan harga sapi impor yang dinilai sudah tidak sebanding dengan daya beli masyarakat.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi, Mohamad Rifki, mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan langsung ke lapangan sejak awal aksi berlangsung.
“Petugas kami sudah melakukan pemantauan aksi mogok di pasar. Aksi ini terjadi di Pasar Tipar Gede dan Pasar Pelita. Para pedagang memilih tidak berjualan karena harga karkas yang terus naik,” ujar Rifki.
Menurut Rifki, aksi mogok tersebut sudah berlangsung selama tiga hari dan berkaitan erat dengan persoalan harga daging sapi impor. Ia menyebut para pedagang berharap adanya kebijakan pemerintah yang dapat menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan pasokan sapi.
“Kami harapkan ada kebijakan dari pemerintah pusat, karena ini isunya isu nasional, agar harga dan suplai sapi bisa aman,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi, Riki Barata, menjelaskan bahwa mogok berjualan hanya dilakukan oleh pedagang daging sapi di pasar tradisional, khususnya yang melakukan pemotongan sapi.
“Kalau toko daging, termasuk frozen food, masih tetap berjualan. Yang mogok itu pedagang pasar yang memotong sapi, baik lokal maupun impor,” jelas Riki.
Ia mengungkapkan, kenaikan harga sapi impor sudah terjadi sejak dari tingkat importir. Saat ini, harga sapi impor berada di kisaran Rp 57 ribu hingga Rp 58 ribu per kilogram berat hidup.
“Kalau ditambah biaya operasional dan lainnya, keuntungannya sangat tipis. Di sisi lain, harga jual di pasaran tidak bisa dinaikkan lagi karena mungkin berkaitan dengan daya beli masyarakat,” ujarnya.
