JABARKINI.ID – Pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, menuai sorotan serius. Sejumlah orang tua siswa penerima manfaat mengeluhkan paket MBG yang diterima anak-anak mereka selama masa libur panjang sekolah, yang diduga hanya bernilai sekitar Rp20.000 untuk jatah tiga hari. 

Nilai tersebut dinilai jauh dari standar kebutuhan gizi harian anak sebagaimana pedoman Badan Gizi Nasional (BGN).

Hasil penelusuran JABARKINI.ID menunjukkan bahwa keluhan ini terjadi hampir merata di sejumlah sekolah penerima MBG. Orang tua menilai menu yang diberikan minim variasi, porsi terbatas, dan tidak mencerminkan prinsip gizi seimbang.

“Kalau dihitung, satu hari paling sekitar enam ribuan. Itu untuk anak sekolah, jelas tidak cukup,” ujar seorang wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Standar BGN vs Fakta di Lapangan
Berdasarkan pedoman BGN, menu MBG minimal harus memenuhi prinsip gizi seimbang, yang mencakup:
Sumber karbohidrat (nasi/umbi/roti)
Protein hewani (telur, ikan, daging, atau ayam)
Protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan)
Sayuran
Buah
serta memperhatikan kecukupan energi dan protein harian anak sesuai kelompok usia

Dalam implementasinya, MBG dirancang bukan sekadar makanan pengganjal lapar, melainkan intervensi gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak dan pencegahan stunting.

Namun, paket MBG yang diterima siswa di Majalaya, menurut pengakuan orang tua, tidak mencerminkan komposisi tersebut secara utuh. Protein hewani disebut jarang ditemukan, sayur dan buah sering kali tidak tersedia, sementara porsi makanan dinilai jauh dari cukup.

“Kadang hanya nasi dan lauk sederhana, tanpa buah. Itu pun porsinya kecil,” ungkap wali murid lainnya.

Anggaran Maksimal Tak Sejalan dengan Kualitas