JABARKINI.ID — Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, menegaskan posisinya sebagai episentrum praktik mitigasi bencana berbasis masyarakat yang diakui lintas negara.
Kehadiran mahasiswa University Munchen asal Jerman dalam studi banding terbaru memperkuat status desa ini sebagai laboratorium lapangan internasional untuk sistem peringatan dini banjir berbasis komunitas.
Di tengah kerentanan terhadap luapan sungai, Majalaya justru tampil sebagai model adaptasi. Sistem yang dibangun tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mengintegrasikan kekuatan sosial melalui relawan muda yang terlatih memantau dinamika cuaca dan tinggi muka air secara real time.
Kegiatan studi banding ini menjadi ruang uji sekaligus pembelajaran langsung. Para mahasiswa melakukan observasi lapangan, berdialog dengan warga, hingga mengkaji mekanisme respons cepat yang telah teruji saat debit air meningkat.
Pendekatan ini menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak lagi bersifat top-down, melainkan bertumpu pada kesadaran kolektif masyarakat sebagai garda terdepan.
Kepala Desa Majalaya, H. Ate Saepudin, S.H., menilai kehadiran peserta internasional sebagai validasi atas model yang dibangun secara konsisten di tingkat akar rumput.
“Kunjungan ini bukan sekadar studi banding, tetapi pengakuan bahwa sistem peringatan dini berbasis gotong royong yang kami kembangkan memiliki relevansi global dan dapat direplikasi,” ujar Ate Saepudin kepada awak media, Rabu (8/04/2026).
Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat—khususnya generasi muda—menjadi kunci dalam menciptakan sistem mitigasi yang tangguh.
Edukasi kebencanaan, kemampuan membaca potensi risiko, hingga respons mandiri saat situasi darurat terus ditanamkan sebagai budaya kolektif.
